1.Kaum Nabi Luth AS
Kisah kehancuran kaum Nabi Luth A.S. adalah satu satu adzab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Al-Quran karena melakukan praktek homoseksual. Menurut kitab Perjanjian Lama, kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sodom. Sehingga karena itu praktek homoseksual saat ini kerap disebut juga sodomi.
Penelitian arkeologis mendapatkan keterangan, kota Sodom semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balik masuk ke dalam Laut Mati.
Layaknya orang jungkir-balik atau terguling, kerap bagian kepala jatuh duluan, lalu diikuti badan dan kaki. Begitu pula kota Sodom, saat runtuh dan terjungkal, bagian atas kota itu duluan yang terjun ke dalam laut, sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Quran: “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Surat Huud ayat 82).
Hasil penelitian ilmiah kontemporer menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah. Patahan itu berawal dari tepi Gunung Taurus, memanjang ke pantai selatan Laut Mati dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, hingga berakhir di Afrika.
Biasanya, bila dua lempengan kerak bumi ini bergeser di daerah patahan maka akan menimbulkan gempa bumi dahsyat yang diikuti dengan tsunami (gelombang laut yang sangat besar) yang menyapu kawasan pesisir pantai. Juga biasa diikuti dengan letusan lava/lahar panas dari perut bumi.
Hal seperti itu pula yang terjadi pada kota Sodom, sebagaimana diungkap peneliti Jerman, Werner Keller, “Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis melewatai daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorrah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman (Laut Mati). Kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan petir, keluarnya gas alam serta lautan api. Pergeseran patahan membangkitkan tenaga vulkanik (berupa gempa) yang telah lama tertidur sepanjang patahan.”
Dengan keterangan ilmiah tersebut dapat direkonstruksi kembali bagaimana adzab Allah itu menimpa ummat Nabi Luth yang ingkar kepada-Nya. Bencana itu didahului dengan sebuah gempa yang menyebabkan tanah menjadi merekah. Dari rekahan itu muncul semburan lahar panas yang menghujani penduduk kota Sodom. Di bawah pesisir Laut Mati juga terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung gas metana mudah terbakar.
Kemungkinan besar, letusan lava serta semburan gas metana itulah yang Allah maksudkan dalam Al-Quran dengan hujan batu dari tanah yang terbakar. Bencana itu diakhiri dengan terjunnya kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati.
Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum Luth di laboratorium, lalu mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk lalu terbenam di dalamnya.
Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini mengungkap satu kenyataan penting, bahwa kaum Luth yang disebutkan Al-Quran memang pernah hidup di masa lalu, kemudian mereka punah diazab Allah akibat kebejatan moral mereka. Semua bukti terjadinya bencana itu kini telah terungkap dan sesuai benar dengan pemaparan Al Qur’an.
Tragedi di Balik Laut Mati Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka)…” (QS. Al Qamar, 54:33-34)
Wilayah Anatolia, dataran Mesopotamia, semenanjung Arabia dan benua Afrika telah menjadi saksi lahirnya beragam peradaban besar sejak dahulu kala. Sepanjang sejarah, Allah mengutus para Rasul untuk menyeru mereka mengikuti jalan-Nya. Kaum yang mengingkari para utusan tersebut, yang mencoba membunuh dan mengusir mereka, semuanya telah dihancurkan.
Salah satu peradaban ini ditemukan dalam wilayah batas negara Israel saat ini. Penduduk yang menetap di pesisir Laut Mati ini adalah kaum Luth. Al Qur’an mengabarkan bahwa hubungan kelamin sesama jenis sedemikian merajalela di kalangan mereka hingga belum pernah dijumpai hal serupa sebelumnya:
“Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’araa’, 26:161-166)
Ketika Nabi Luth menyuruh mereka meninggalkan perilaku maksiat dan menyampaikan perintah Allah, mereka ingkar, dan menolaknya sebagai seorang Nabi dan melanjutkan perilaku menyimpang mereka. Sebagai balasannya, mereka dihancurkan dengan bencana mengenaskan.
Ketika membaca Perjanjian Lama, kitab suci umat Nasrani dan Yahudi, akan kita ketahui bahwa hal ini dilukiskan dengan istilah yang sama sebagaimana dalam Al Qur’an. Menurut Perjanjian Lama, tempat tinggal kaum berperilaku menyimpang ini adalah kota Sodom. Temuan purbakala hasil penggalian mengungkapkan, kota tersebut dibangun dekat Laut Mati, di sepanjang perbatasan Israel dan Yordania. Para arkeolog yang bekerja di wilayah tersebut menemukan bukti telah tejadinya bencana mengerikan. Kerusakan parah pada rangka manusia yang berhasil digali menandakan telah terjadinya gempa bumi dahsyat.
Al Qur’an meriwayatkan bahwa malaikat datang kepada Nabi Luth dan memperingatkan hal ini di malam sebelum terjadinya bencana:
Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi; yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Huud, 11:81-83).
Ungkapan”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah” dalam segala kemungkinannya bermakna daerah tersebut hancur oleh gempa bumi dashyat. Menurut siaran BBC berjudul ” Ilmuwan MengungkapTamatnya Riwayat Kota Sodom “, geolog asal Inggris, Graham Harris, termasuk ilmuwan yang menemukan bukti meyakinkan tentang hal ini. Menurutnya, Sodom dibangun di pesisir Laut Mati dan penduduknya berdagang aspal yang tersedia di wilayah tersebut. Zat hitam lengket ini di masa lalu digunakan sebagai pelapis tahan air pada perahu dan perekat bebatuan pada bangunan.
Daerah pemukiman yang tepat di pesisir Laut Mati ini, juga berdiri di atas dataran yang mudah guncang. Ini adalah titik bertemunya 2 lempengan tektonik yang bergerak berlawanan arah. Ini adalah zona gempa bumi! Lapisan lahar dan batu basal yang ditemukan selama penggalian adalah bukti terkuat telah terjadinya letusan gunung berapi dan gempa bumi di sini. Peristiwa yang digambarkan Al Qur’an dengan kalimat “Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi” besar kemungkinannya sebagai letusan gunung berapi. Peristiwa tersebut dilukiskan oleh ayat yang sama dalam kalimat “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah” sangat mungkin merujuk pada pecahan dan penghancuran akibat gempa bumi.
Di bawah pesisir Laut Mati terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung gas metana mudah terbakar. Gempa bumi pastilah telah mengguncangnya dan menjadikannya terbakar. Permukaan tanah lalu berubah menjadi pasir hanyut, dan longsor besar menenggelamkan kota tersebut ke dalam air.
Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum Luth di laboratorium, dan mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk dan terkubur di dalamnya. Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini mengungkap satu kenyataan penting: kaum Luth yang disebutkan Al Qur’an memang pernah hidup di masa lalu, dan diazab oleh bencana kiriman Allah akibat penyimpangannya. Semua bukti terjadinya bencana itu kini telah terungkap, dan sesuai benar dengan pemaparan Al Qur’an.
Begitulah, Letusan Dahsyat membinasakan mereka saat fajar tiba:
Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (QS. Al Hijr, 15:73-75)
Ayat 82 Surat Hud secara jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Lut. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,”.
Sebuah citra satelit dari daerah dimana dahulunya kaum Luth pernah hidup.
Pernyataan ” menjungkirbalikkan (kota) ” mengandung makna bahwa kawasan tersebut diluluhlantakkan oleh kedahsyatan gempa bumi. Sesuai dengan keadaan Danau Lut dimana penghancuran terjadi, terkandung bukti “nyata” dari bencana tersebut.
Mengutip apa yang dikatakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai berikut :
Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika (dalam waktu satu hari ) ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat.
Beberapa reruntuhan dari kota yang terkubur di dalam danau, ditemukan di tepian danau. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa kaum Luth telah memiliki standar hidup yang cukup tinggi.
Jejak-jejak dari danau Lut akan nampak kentara. Jika seseorang bersampan melintasi Danau Lut ke titik paling Utara dan sang Surya sedang bersinar tepat diarahnya, maka ia akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Dari kejauhan pantai akan nampak secara jelas dibawah permukaan air segaris bentuk hutan yang secara luarbiasa diawetkan oleh kandungan garam yang tinggi dari Laut Mati. Batang pepohonan dan akar-akaran didalam kilauan air yang hijau nampaklah sangat kuno. Lembah Siddim dimana pepohonan ini dahulu daunnya pernah bermekaran menutupi batang dan rantingnya adalah merupakan salah satu lokasi yang paling indah didaerah ini.
Gambar di atas mewakili kemewahan dan kemakmuran dari kota Pompeii sebelum terjadinya bencana.
Lembaga Geografi nasional Amerika Serikat (National Geographic) pada Desember 1957 menyatakan sebagai berikut :
“Gunung Sodom, merupakan tanah gersang dan tandus muncul secara mendadak diatas Laut Mati. Tidak ada seorangpun yang pernah menemukan kota Sodom dan Gomorah yang dihancurkan, namum para ilmuwan percaya bahwa kota ini dahulunya berada di lembah Siddim yang terletak melintang disepanjang tepian tebing jurang terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati yang menelan mereka yang disertai dengan gempa bumi”.
Hilangnya Pompeii dari muka bumi dengan bencana seperti ini bukanlah tanpa alasan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut adalah merupakan sarang pemborosan/foya-foya dan perbuatan menyimpang. Kota ini dikenal dengan adanya pelacuran yang sampai pada tingkat tertentu tidak diketahui lagi mana rumah pelacuran dan mana yang bukan. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya digantung di depan pintu rumah pelacuran. Menurut tradisi yang berakar dari kepercayaan Mithraic, organ seksual dan persetubuhan tidaklah seharusnya disembunyikan namun dipertontonkan secara terang-terangan.
Namun lava daari Vesuvius menyapu bersih seluruh kota dari muka bumi dalam waktu sekejap. Meskipun demikian sisi yang paling menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tidak ada seorangpun yang selamat dari bencana letusan Vesuvius yang mengerikan ini. Sepertinya mereka sama sekali tidak menyadari bencana tersebut, seolah-olah mereka sedang terlena dalam pengaruh guna-guna. Sebuah keluarga yang sedang menyantap makanan mereka saat itu juga menjadi batu (membatu). Beberapa pasangan ditemukan membatu dimana mereka sedang melakukan hubungan badan. Hal yang paling menarik adalah bahwa terdapat pasangan yang berjenis kelamin sama dan pasangan muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari kebanyakan jasad manusia membatu yang digali dari Pompeii masih utuh sama sekali, ekspresi wajah-wajah tersebut pada umumnya nampak kebingungan/terkagum-kagum.
Kematian warga kota Pompeii yang terjadi secara tiba-tiba memiliki kemiripan sebagaimana diceritakan dalam ayat terebut diatas. Meskpun demikian tidak banyak hal yang telah berubah sejak Pompeii dihancurkan. Daerah Naples dimana pesta pora berlaku, tidak serusak sebagaimana halnya daerah Pompeii yang tidak bermoral. Kepulauan Capri adalah asal muasal kaum homoseksual dan kaum nudist bertempat tinggal. Kepulauan Capri dilambangkan sebagai “surga kaum homo” dalam iklan pariwisata. Tidak hanya di kepulauan Capri dan di Italia saja, namun hampir diseluruh dunia dimana kebobrokan moral yang sama sedang terjadi dan orang-orang tetap bersikeras untuk tidak mengambil pelajaran dari kaum-kaum terdahulu.
sumber:
http://aliefqu.wordpress.com/
2.Kaum Nabi Saleh AS
Dalam Alquran banyak sekali dijelaskan tentang kehancuran
bangsa-bangsa (kaum) yang tidak mau beriman kepada Allah SWT. Di antaranya,
bangsa ‘Ad (umat Nabi Hud), kaum Tsamud (umat Nabi Saleh), bangsa Madyan (umat
Nabi Syu’aib), kaum Nabi Ibrahim, serta kaum Nabi Nuh.
Seperti umat lainnya, umat Nabi Saleh, yaitu kaum Tsamud,
juga dihancurkan karena mereka tidak mau beriman kepada Allah SWT dan tidak
mengakui Saleh sebagai seorang Nabi. Mereka dihancurkan oleh Allah SWT dengan
petir yang menggelegar sehingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.
”Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang
yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka,
seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya
kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum
Tshamud.” (QS Hud ayat 67-68).
Sebelum mereka dihancurkan dengan suara petir yang
menggelegar, bangsa Tsamud ini diperintahkan untuk menyembah Allah dan
mengikuti ajakan Nabi Saleh. Namun, mereka enggan melakukannya. Bahkan, ajakan
itu justru dianggap menghina kaum Tsamud. Lalu, ketika diuji dengan diberikan
seekor unta betina, mereka pun membunuhnya. Kemudian, Nabi Saleh memperingatkan
umatnya. Cerita ini terdapat dalam surah Hud ayat 61-62 dan 65-68, Ibrahim ayat
9, Al-A’raf ayat 75-77, An-Naml ayat 47-50, Al-Qamar ayat 23-26, dan
Asy-Syu’araa’ 141-158.
Karena sikap sombong dan angkuh itu, mereka pun harus
menerima akibat dan dihancurkan oleh Allah SWT sebagaimana telah dilakukan pada
kaum ‘Ad, umatnya Nabi Hud.
Berdasarkan hasil studi arkeologi dan sejarah terkini
mengenai kehidupan dan peninggalan bangsa Tsamud ini, para peneliti arekologi
berhasil menemukan dan mengungkapkan keberadaan kaum Tsamud di antara Yaman
selatan dan utara Madinah yang disebut dengan nama Madain Saleh. Alquran
menyebutkan, kaum Tsamud membuat rumah atau bangunan sesuai dengan gaya hidup mereka. Tsamud,
seperti disebutkan dalam Alquran, merupakan fakta sejarah yang dibenarkan oleh
banyak temuan arkeologis saat ini.
Menurut penjelasan Alquran, kaum Tsamud merupakan anak cucu
dari kaum ‘Ad. Hal ini dibuktikan dengan temuan-temuan arkeologis tentang
keberadaan dan kehidupan mereka. Dijelaskan, akar kaum Tsamud dulunya hidup di
utara Semenanjung Arab yang berasal dari selatan Arabia ,
tempat kaum ‘Ad pernah hidup.
Sumber-sumber sejarah mengungkapkan, sekelompok orang yang
disebut dengan Tsamud benar-benar pernah ada. Masyarakat al-Hijr (batu)
sebagaimana disebutkan dalam Alquran adalah sama dengan kaum Tsamud. Nama lain
dari Tsamud adalah Ashab al-Hijr. Kata ‘Tsamud’ adalah nama dari suatu kaum,
sedangkan kata al-Hijr adalah salah satu di antara beberapa kota yang dibangun oleh orang tersebut.
(Lihat Ensiklopedia Islam).
Seperti umat Nabi Hud yaitu kaum ‘Ad, ahli geografi Yunani
yang bernama Pliny menggambarkan bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat
tinggal kaum Tsamud. Tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Kota
Al-Hijr.
Sumber tertua yang berkaitan dengan kaum Tsamud adalah
hikayat kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan
orang-orang ini dalam pertempuran di Arabia
selatan. Bangsa Yunani juga menghubungkan kaum ini sebagai ‘Tamudaei’, yakni
‘Tsamud’ sebagaimana ditulis Aristoteles, Ptolomeus, dan Pliny. Kaum Tsamud ini
diperkirakan hidup pada abad ke-8 Sebelum Masehi, sekitar tahun 800-an SM.
Dalam Alquran, kaum ‘Ad dan Tsamud disebutkan secara
bersamaan. Menurut para ahli tafsir, terdapat sebuah hubungan antara kedua kaum
ini. Dan, kaum ‘Ad pernah menjadi bagian dari sejarah kaum Tsamud.
Nabi Saleh memerintahkan umatnya untuk mengambil peringatan
dari kejadian yang pernah menimpa umat Nabi Hud (kaum ‘Ad). Sementara itu, kaum
‘Ad ditunjukkan contoh dari kaum Nabi Nuh yang pernah hidup sebelum mereka.
Kaum ‘Ad mempunyai kaitan penting dengan kaum Nabi Nuh. Ketiga kaum ini
mempunyai hubungan sejarah yang saling berkaitan.
Menurut Alquran, kaum yang pertama kali dihancurkan adalah
kaum Nuh. Selanjutnya, kaum Nabi Luth yang melakukan hubungan sejenis
(homoseksual). Kemudian berturut-turut, kaum Nabi Musa (penenggelaman Firaun),
kaum Nabi Syu’aib (Madyan), kaum Nabi Hud (‘Ad), dan kaum Nabi Saleh (Tsamud).
Menurut Harun Yahya dalam situsnya, umat Nabi Nuh
dihancurkan pada 3000-2500 SM, kaum Ibrahim dan Luth awal tahun 2000 SM, umat
Musa tahun 1300 SM, umat Hud (‘Ad) 1300 SM, dan umat Nabi Saleh (Tsamud)
sekitar tahun 800 SM.
Menurut beberapa sumber, urutan tersebut di atas belum
sepenuhnya tepat. Namun, dari data itu, akan dihasilkan sebuah rangkaian yang
sangat runtut (tertib), baik menurut Alquran maupun data-data sejarah.
Pahatan Batu
Dari beberapa
keterangan yang ada, Britannica Micropedia menyebutkan:
Di Arabia Kuno, suku
atau sekelompok suku tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4
SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Tsamud kemungkinan
asal-usulnya dari Arabia selatan, sebuah kelompok besar rupanya pindah ke utara
pada awal-awal tahun, secara tradisional berdiam di lereng gunung (Jaba)
Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan, sejumlah besar batu
bertulis dan gambar-gambar kaum Tsamud tidak hanya ada di Jabal Athlab, tetapi
juga di seluruh Arabia tengah. (Britannica Micropedia, vol 11, hlm 672).
Pada sekitar 2000 tahun yang lampau, kaum Tsamud telah
mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa arab yang lain, yaitu Nabataeans.
Saat ini, di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Jordania,
dapat dilihat berbagai contoh karya pahat batu yang terbaik dari kaum ini.
Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, kaum Tsamud ini memiliki kemahiran dan
keahlian dalam bidang pertukangan (ukiran dan pahat memahat).
”Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan
kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat
Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS
al-A’raf: 74)
Menurut Brian Doe, seorang peneliti arkeologi tentang
keberadaan kaum Nabi Hud dan kaum Tsamud di Arabia selatan, kaum Tsamud ini
dikenali melalui tulisan dan pahatan-pahatan yang mereka buat di
dinding-dinding batu. Tulisan yang secara grafis itu sangat mirip dengan
huruf-huruf Smaitic (yang disebut Thamudic) dan banyak ditemukan di Arabia
selatan sampai ke Hijaz. (Brian Doe, Southern Arabia, Thames and Hudson, 1971,
hlm 21-22)
Tulisan yang pertama ditemukan di daerah utara Yaman tengah
yang dikenal sebagai Tsamud, ini dibawa ke utara oleh Rub’ah Khali ke selatan
dan Hadramaut serta oleh Shabwah ke barat.
Seperti halnya kaum ‘Ad, peninggalan kaum Tsamud banyak ditemukan
di daerah sekitar Hadramaut, Yaman. Walaupun telah dihancurkan oleh Allah SWT
selama ribuan tahun lalu, namun hingga kini sisa-sisa peninggalan mereka
(berupa bangunan dan karya seni) masih dapat ditemukan di sekitar Hadramaut dan
di Kota Madain Saleh, sebelah utara Madinah. sya/berbagai sumber
Warisan Dunia
Kota bekas peninggalan umat Nabi Saleh, yaitu kaum Tsamud di
Al-Hijr (Madain Saleh), kini menjadi salah satu kota warisan dunia. Badan PBB
untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), pada awal Juli
2008 lalu, telah mengesahkan kota tua Madain Saleh yang terletak di utara
Madinah, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site).
Kaum Tsamud dan Nabatea yang menetap di Madain Saleh adalah
situs bersejarah yang memiliki 132 kamar dan kuburan. Tempat ini terletak
sekitar 440 km di sebelah utara Madinah. Umat ini diperkirakan hidup pada 200
SM hingga abad 200 Masehi (abad ke-2). Peninggalan yang masih bisa dilihat di
sini adalah ukiran dan pahatan pada tembok, menara, serta sejumlah saluran air
dan bak-bak air.
Selain itu, para arkeolog juga menemukan batu bata rumah
warga yang dianggap sebagai sisa peninggalan umat Nabi Saleh di Nabatea yang
terpelihara dengan baik setelah Petra, dan berlokasi sekitar 440 km arah utara
Madinah yang berbatasan dengan Yordania. Kota Madain Saleh menjadi situs
warisan dunia yang pertama diperoleh Arab Saudi. sya/iina
Kaum Tsamud, Entrepreneur Ulung
Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh, dikenal sebagai entrepreneur
ulung di masanya. Berbagai karya seni pahat, ukiran, dan pertukangan adalah
contoh keahlian dan kemahiran mereka.
”Dan, ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu
pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat
bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan
kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat
Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS
al-A’raf: 74)
Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah batu karang dari
hasil budaya kaum Tsamud di gunung-gunung maupun di lembah-lembah sekitar
Arabia selatan dan tengah. Misalnya di Jabal Athlab, ditemukan tembikar dan
lainnya.
Karena keahlian dan kepandaiannya itu, hasil ukiran yang
mereka buat dijadikan sebagai barang dagangan dengan komunitas lainnya.
Sebagian lagi dibuat hiasan di rumah-rumah mereka.
Produk utama kaum Tsamud adalah barang pecah belah
(tembikar) yang unik dan memiliki nilai seni yang berkualitas tinggi.
Sedangkan, produk lainnya yang diperdagangkan adalah kemenyan dan
rempah-rempah. Dari hasil perdagangan tersebut, didapatkan kekayaan sehingga
memungkinkan mereka membangun istana, rumah yang dipahat, dan makam pada batu
karang. Kota tersebut berada 347 km di sebelah utara Madinah.
Pada sekitar 200 SM, kaum Nabasia menggantikan kaum Tsamud
menguasai Kota Dedan (Al-Ula) sampai Al-Hijr (Madain Saleh). Situs arkeologi
penting ditemukan di Kota Al-Ula yang telah dihuni sampai 1970, yang merupakan
sebuah percontohan Kota Islam yang dikenali kembali pada abad ke-11 Masehi.
Khuraibah merupakan sebuah situs Kerajaan Lihyanite, yang terdapat sejumlah
besar makam. Ditemukan pula, Ikmah yang merupakan sebuah sungai (wadi) pada
batunya memuat prasasti Lihyanite dan Minea. sya/berbagai sumber/kem
(Republika Newsroom)
3.Kaum Nabi Hud AS
Dalam Alquran, terdapat sejumlah cerita yang mengisahkan
kehancuran beberapa kaum (umat) karena tidak mau beriman kepada Allah. Di
antaranya, kaum ‘Ad (zaman Nabi Hud), umat Nabi Nuh, Tsamud (di zaman Nabi
Saleh), Madyan (Nabi Syu’aib), dan kaum Ibrahim.
Pada kesempatan ini, Republika mencoba menurunkan laporan
tentang kehancuran salah satu bangsa itu, yaitu kaum ‘Ad serta di manakah
dulunya keberadaan kaum (bangsa) tersebut.
Dalam Alquran, dijelaskan bahwa kehancuran kaum Nabi Hud ini
disebabkan oleh angin (topan) yang lebat dan berlangsung selama tujuh malam
delapan hari (QS Alhaaqqah: 6-8).
Hancurnya kaum yang durhaka kepada Allah SWT dan mendustakan
Nabi Hud ini rupanya mengusik perhatian para peneliti untuk menguak kembali
keberadaan dan sisa-sisa bangsa ‘Ad ini.
Dalam berbagai upaya yang dilakukan, sejumlah peneliti mulai
menemukan tanda-tanda sebagian umat terdahulu ini. Tahun 1990, beberapa koran
terkemuka di dunia melaporkan temuan salah seorang peneliti yang bernama
Nicholas Clapp, seorang arkeolog. Dalam sejumlah media itu, diberitakan
keberadaan kaum ‘Ad ini dengan headline besar. Seperti dikutip situs
http://www.islamicity.com, berita-berita tersebut di antaranya menulis Fabled
Lost Arabian City Found (Kota Legenda Arabia yang Hilang Telah Ditemukan), ada
pula yang menuliskan Arabian City of Legend Found (Kota Legenda Arabia
Ditemukan), dan The Atlantis of the Sands, Ubar (Ubar, Atlantis di Padang
Pasir), dan sebagainya.
Penelitiannya tentang sejarah Arab merujuk pada Alquran dan
karya peneliti Inggris yang bernama Bertram Thomas dengan judul Arabia Felix.
Arabia Felix adalah sebuah ungkapan yang diberikan penguasa Romawi untuk bagian
selatan semenanjung Arabia yang berarti Arabia
yang beruntung. Dinamakan demikian karena keberadaan dan letaknya yang sangat
strategis telah menjadi perantara dalam perdagangan rempah-rempah antara India
dan tempat-tempat di utara semenanjung Arab. Dan, orang-orang yang tinggal di
daerah ini mampu memproduksi dan mendistribusikan frankincense (seperti
gaharu–Red), sejenis getah wangi dari pohon yang sangat langka. Tanaman
tersebut digunakan sebagai dupa dalam berbagai ritus keagamaan. Dan, harga
tanaman ini pada saat itu sebanding dengan emas.
Dari ayat Alquran dan buku karangan Thomas ini, Nicholas
Clapp menelusuri jejak sebuah kota kuno di bagian selatan semenanjung Arabia
(termasuk Yaman dan Oman) bernama Ubar yang disebutkan dalam dongeng Suku
Badui.
Dalam Alquran, kejadian atau peristiwa yang menghancurkan
kaum ‘Ad ini terjadi di Iram, salah satu kota di
semenanjung Arabia . Setelah lokasi kota legendaris yang menjadi subjek cerita dongeng Suku
Badui ini diketemukan, penggalian dilakukan untuk mengangkat peninggalan dari
sebuah kota
yang berada di bawah gurun pasir. Dari sini, kemudian ditemukan sejumlah bekas
reruntuhan yang diyakini merupakan pilar-pilar dari bangunan menara yang
dahulunya dimiliki kaum ‘Ad dan Iram sebagaimana disebutkan dalam surat Alfajr ayat 6-8.
”Apakah kamu tidak memerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat
terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan
tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota )
seperti itu di negeri-negeri lainnya.” (QS Alfajr: 6-8).
Berdasarkan keterangan dan data-data empirik tersebut, Clapp
mencoba dua jalan untuk membuktikan keberadaan Ubar. Pertama, ia menemukan
bahwa jalan-jalan yang dikatakan oleh Suku Badui benar-benar ada. Ia meminta
kepada NASA (Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat) untuk menyediakan
foto atau citra satelit dari daerah tersebut. Setelah melalui perjuangan yang
panjang, ia pun berhasil membujuk pihak yang berwenang untuk memotret daerah
tersebut.
Selanjutnya, Clapp mempelajari naskah dan peta-peta kuno di
Perpustakan Huntington di California untuk menemukan peta dari daerah tersebut.
Ia berhasil menemukan sebuah peta yang digambar oleh Ptolomeus, seorang ahli
geografi Yunani Mesir dari tahun 200 M. Dalam peta ini, ditunjukkan letak dari
kota tua yang ditemukan di daerah tersebut dan jalan-jalan yang menuju kota
tersebut.
Bahkan, hasil foto satelit NASA ditunjukkan adanya jejak
kafilah yang tidak mungkin dikenali dengan mata telanjang. Setelah
membandingkan gambar dari satelit dengan peta tua, akhirnya Clapp berkesimpulan
bahwa jejak-jejak dalam peta tua berhubungan erat dengan gambar satelit. Lalu,
ia mencari jejak peninggalan sejarah yang ada di daerah itu, yaitu sebuah kota sebagaimana dongeng
Suku Badui.
Dari penelitian yang dilakukan Clapp dan gambar-gambar
satelit, akhirnya ia berkesimpulan bahwa Ubar adalah kota tempat kaum ‘Ad bermukim. Apalagi,
setelah dilakukan penggalian, kota
itu tampak berada di bawah pasir sedalam 12 meter. Yang lebih mengesankan lagi
bagi Clapp, sisa-sisa peninggalan kaum ‘Ad ini berupa pilar-pilar bangunan yang
tinggi, sebagaimana diisyaratkan Alquran.
Dr Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin
penggalian, mengatakan bahwa selama menara-menara itu dianggap sebagai unsur
yang menunjukkan kekhasan Kota Ubar dan selama Iram disebutkan mempunyai
menara-menara atau tiang-tiang, maka sejauh ini hal itu merupakan bukti terkuat
bahwa peninggalan sejarah yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang
disebut dalam Alquran. sya/dia/berbagai sumber
Peradaban Modern Kaum ‘Ad
Salah satu jejak ditemukannya keberadaan peninggalan kaum
‘Ad adalah pilar-pilar bangunan yang tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa
sejak zaman dahulu, umat manusia, khususnya kaum ‘Ad, sudah berperadaban sangat
maju. Ini dibuktikan dengan pendirian bangunan yang menggunakan pilar sangat
tinggi.
Banyak perdebatan mengenai ciri-ciri dari kaum ‘Ad yang
membangun kota Iram (Ubar) sebagai kemajuan peradaban mereka. Bahkan, tidak ada
bukti sejarah ataupun arsip peradaban lama yang menunjukkan hal itu. Namun,
Alquran telah mengatakan hal ini pada 14 abad yang silam.
Menurut sebuah sumber, tidak adanya catatan sejarah mengenai
peradaban bangsa ini disebabkan kaum yang berdiam di Arabia Selatan (Yaman) ini
selalu menjaga jarak dengan masyarakat lain yang hidup di Mesopotamia dan Timur
Tengah.
Dalam Alquran, umat Nabi Hud ini dikenal sebagai umat yang
sombong. Mereka juga tidak percaya dengan kenabian Hud. Mereka menyombongkan
diri sebagai kaum yang kuat, tinggi besar perawakan tubuhnya (QS 41: 15),
mendiami bangunan tinggi, istana-istana dan benteng yang dibangun di atas
perbukitan (QS 26: 128-129), suka menyiksa dengan kejam (QS 26: 130), mempunyai
banyak keturunan, hewan ternak, kebun, dan mata air (QS 26: 133-134).
Kaum ‘Ad diperkirakan hidup antara abad ke-20 sebelum masehi
(SM). Alquran menyebutkan, kaum ini ada sesudah kaum Luth dan Tsamud. Kaum Luth
semasa dengan Ibrahim sekitar abad 17-18 SM. Sedangkan, kaum Tsamud sekitar
abad ke-8 SM. Mereka (‘Ad) diperkirakan hidup pada tahun 2000 SM. Namun, ada
pula yang menyatakan abad ke-23 SM, 13 SM, dan sebelum masa Nabi Musa. sya/berbagai
sumber
Orang Hadramaut
Diperkirakan Keturunan Kaum ‘Ad
Orang Hadramaut (Yaman) diduga merupakan anak cucu dan
keturunan dari kaum ‘Ad. Dugaan ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan
secara mendalam mengenai peradaban yang didirikan kaum ‘Ad di Ubar, Yaman
Selatan.
Harun Yahya dalam situsnya tentang bangsa-bangsa yang musnah
menyebutkan, di Yaman Selatan, terdapat empat kaum yang hidup sebelum saat ini.
Keempat kaum itu adalah Hadramaut, Sabaean (Saba), Minaean, dan Qatabaean.
Keempat kaum ini, dalam waktu yang singkat, berada dalam satu pemerintahan dan
dalam suatu daerah yang saling berdekatan.
Banyak ilmuwan kontemporer mengatakan bahwa kaum ‘Ad telah
memasuki satu periode transformasi dan kemudian muncul kembali ke dalam
panggung sejarah. Dr Mikhail H Rahman, seorang peneliti dari University of
Ohio, merasa yakin bahwa kaum ‘Ad adalah nenek moyang dari Hadramaut, Saba, dan
empat kaum yang pernah hidup di Yaman Selatan.
Seorang penulis Yunani bernama Pliny menghubungkan suku ini
sebagai “Adramitai” yang berarti Hadrami. Akhiran dalam bahasa Yunani adalah
suffiks-kata benda, kata benda “adram” mungkin merupakan perubahan dari kata
“ad-i ram” sebagaimana disebutkan dalam Alquran.
Ptolomeus, seorang ahli geografi YunanI (150-100 SM), menunjukkan
bahwa di sebelah selatan Semenanjung Arabia adalah tempat di mana kaum yang
disebut “Adramitai” pernah hidup. Daerah yang sampai sekarang dikenal dengan
nama Hadramaut. Ibu kota negara Hadrami, Shabwah, terletak di sebelah barat
Lembah Hadramaut. Berdasarkan berbagai legenda tua, disebutkan bahwa makam Nabi
Hud yang diutus sebagai nabi oleh kaum ‘Ad terletak di Hadramaut.
Faktor lain yang cenderung membenarkan pemikiran bahwa
Hadramaut adalah penerus dari kaum ‘Ad adalah kekayaan mereka. Bangsa Yunani
menegaskan bahwa Hadramites (orang Hadramaut) sebagai “suku bangsa yang terkaya
di dunia”. Catatan sejarah mengatakan bahwa Hadramites sangat maju dalam
pertanian wewangian, salah satu yang paling berharga pada waktu itu. Mereka
telah membangun daerah-daeah baru yang digunakan untuk menanam dan memperluas
penggunaannya. Hasil pertanian dari Hadramites lebih banyak daripada produksi
wewangian tersebut di masa kini.
Apa yang telah ditemukan dalam penggalian yang dilakukan di
Shabwah yang dahulunya dikenal sebagai ibu kota Hadramite sangatlah menarik.
Dalam penggalian yang dimulai pada tahun 1975, sangatlah sulit bagi para ahli
arkeologi untuk mencapai sisa-sisa/reruntuhan dari kota tersebut karena
terkubur di bawah gurun pasir yang sangat dalam. Temuan yang dihasilkan itu
diakhiri penggalian yang sangatlah menakjubkan. Kota tua yang digali adalah
salah satu temuan terbesar dan menarik yang ditemukan saat ini. Kota yang
dikelilingi oleh tembok dinyatakan lebih luas daripada berbagai situs kuno
lainnya di Yaman dan istananya dikenal sebagai bangunan yang sangat
menakjubkan. sya/harunyahya.com/kem
(Republika Newsroom)
4.Kaum Nabi Syu'aib AS
Sejak berdakwah dan bertabligh menyampaikan risalah Allah
kepada kaum Madyan, Nabi Syu’aib berhasil menyedarkan hanya sebahagian kecil
dari kaumnya, sedang bahagian yang terbesar masih tertutup hatinya bagi cahaya
iman dan tauhid yang diajar oleh beliau. Mereka tetap berkeras kepala
mempertahankan tradisi, adat-istiadat dan agama yang mereka warisi dari nenek
moyang mereka. Itulah alasan mereka satu-satunya yang mereka kemukakan untuk
menolak ajaran Nabi Syu’aib dan itulah benteng mereka satu-satunya tempat
mereka berlindung dari serangan Nabi Syu’aib atas persembahan mereka yang
bathil dan adat pengaulan mereka yang mungkar dan sesat. Di samping itu jika
mereka sudah merasa tidak berdaya menghadapi keterangan-keterangan Nabi Syu’aib
yang didukung dengan dahlil dan bukti yang nyata kebenaran, mereka lalu
melemparkan tuduhan-tuduhan kosong seolah-olah Nabi adalah tukang sihir dan
ahli sulap yang ulung. Mereka telah berani menentang Nabi Syu’aib untuk
membuktikan kebenaran risalahnya dengan mendatangkan bencana dari Allah yang ia
sembah dan menganjurkan orang menyembah-Nya pula.
Mendengar tentangan kaumnya yang menandakan hati mereka
telah tertutup rapat-rapat bagi sinar agama dan wahyu yang ia bawa dan bahwa
tiada harapan lagi akan menarik mereka ke jalan yang lurus serta mengangkat
mereka dari lembah syirik dan kemaksiatan serta pergaulan buruk, maka
bermohonlah Nabi Syu’aib kepada Allah agak menurunkan azzab siksanya kepada
kaum Madyan bahwa wujud-Nya serta menentang kekuasaannya untuk menjadi
peringatan bagi generasi-generasi yang mendatang.
Allah Yang Maha berkuasa berkenan menerima permohonan dan
doa Syu’aib, maka diturunkanlah lebih dahulu di atas mereka hawa udara yang
sangat panas yang mengeringkan kerongkongan karena dahaga yang tidak dapat
dihilangkan dengan air dan membakar kulit yang tidak dapat diubati dengan
berteduh di bawah atap rumah atau pohon-pohon.
Di dalam keadaan mereka yang sedang bingung, panik
berlari-lari ke sana
ke mari, mencari perlindungan dari terik panasnya matahari yang membakar kulit
dan dari rasa dahaga karena keringnya kerongkong tiba-tiba terlihat di atas
kepala mereka gumpalan awan hitam yang tebal, lalu berlarilah mereka ingin
berteduh dibawahnya. Namun setelah mereka berada di bawah awan hitam itu seraya
berdesak-desak dan berjejal-jejal, jatuhlah ke atas kepala mereka percikan api
dari jurusan awan hitam itu diiringi oleh suara petir dan gemuruh ledakan
dahsyat sementara bumi di bawah mereka bergoyang dengan kuatnya menjadikan
mereka berjatuhan, tertimbun satu di bawah yang lain dan melayanglah jiwa
mereka dengan serta-merta.
Nabi Syu’aib merasa sedih atas kejadian yang menimpa kaumnya
dan berkata kepada para pengikutnya yang telah beriman: “Aku telah sampaikan kepada
mereka risalah Allah, menasihati dan mengajak mereka agar meninggalkan
perbuatan-perbuatan mungkar serta persembahan bathil mereka dan aku telah
memperingatkan mereka akan datangnya siksaan Allah bila mereka tetap berkeras
hati, menutup telinga mereka terhadap suara kebenaran ajaran-ajaran Allah yang
aku bawa, namun mereka tidak menghiraukan nasihatku dan tidak mempercayai
peringatanku. Karenanya tidak patutlah aku bersedih hati atas terjadinya
bencana yang telah membinasakan kaumku yang kafir itu.”
Makam Syu’aib terpelihara dengan baik di Yordania yang
terletak 2 km barat kota
Mahis dalam area yang disebut Wadi Syu’aib. Situs lain yang dikenal sebagai
makam Syu’aib terletak di dekat Horns of Hattin di Lower Galilee .
Tempat ini suci bagi Druze
5.Kaum Nabi Nuh AS
Nabi Nuh adalah nabi keempat sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa "fatrah" masa kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara beransur-ansur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali bersyirik meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala ialah patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.
Berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera kebodohan mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka " Wadd " dan " Suwa " kadangkala " Yaguts " dan bila sudah bosan digantinya dengan nama " Yatuq " dan " Nasr ".
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid menyembah Allah Tuhan sekalian alam melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam menjadi siang dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga memberitakan kepada mereka bahwa akan ada gajaran yang akan diterima oleh manusia atas segala amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.
Nabi Nuh yang dikurniakan Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tanaganya berdakwah kepda kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka terbyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dpt menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan tingi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan mengagalkan usaha dakwah Nabi nuh.
Berkata mereka kepada Nabi Nuh:"Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan tidak berbeda drp kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dpt diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang-orang yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudak kami menerima ajakanmu dan dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soaL-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui drpmu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalh pendusta belaka."
Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:"Adakah engkau mengira bahwa aku dpt memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendpt amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan gajaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa menurunkan seksa danazab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.".
Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata:"Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani, buruh dan hamaba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena kami tidak dpt bergaul dengan mereka duduk berdampingan dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dpt menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan papa."
Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata:"Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara peguasa dan rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama trehadap agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dpt ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan drpku orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dpt mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahawa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sihat. Sesungguhnay kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat.
Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka:
"Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami. datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."
Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya
Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah, mengajak mereka meninmggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mangangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingak yang sesuai dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan congkak yang melekat pada para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong diantara sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan an menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia mengharapkan akan dtg masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan dtg mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya.
Harapan Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal mana Nabi Nuh berupa berfirman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya tidak akan seorang drp kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka jgnlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuatkan."
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru:"Ya Allah! Jgnlah Engkau biarkan seorang pun drp orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt.mereka."
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam.
Nabi Nuh Membuat Kapal
Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bhn yang diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.
Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dpt bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olk dengan mengatakan:"Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal.Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang ankan menarik kapalmu ke laut?"Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab:"Baiklah tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekrg mengejek dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bg kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu."
Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah:"Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda drp-Ku maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.
Dengan iringan"Bismillah majraha wa mursaha"belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.
Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kanaan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.
Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah." Kanaan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang:"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."
Nuh menjawab:"Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kanaan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:"Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."Kepadanya Allah berfirman:"Wahai Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir drp kaummu.Coretlah namanya dari daftar keluargamu.
Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dpt engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya danterjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh."
Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sedar bahawa ia tersesat pd saat ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."
Kisah Nabi Nuh Dalam Al-Quran
Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh dari ayat 1 sehinga 28, juga dalam surah "Hud" ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Nuh A.S.
Bahawasanya hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan drp hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kanaan yang walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
Maka dalam pengertian inilah dapat difahami firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud:"Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara." Demikian pula hadis Rasulullah s.a.w.yang bermaksud:"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri."Juga peribahasa yang berbunyi:"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu." (ar/kisah) www.suaramedia.com
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa "fatrah" masa kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara beransur-ansur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali bersyirik meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala ialah patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan.
Berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera kebodohan mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka " Wadd " dan " Suwa " kadangkala " Yaguts " dan bila sudah bosan digantinya dengan nama " Yatuq " dan " Nasr ".
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid menyembah Allah Tuhan sekalian alam melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam menjadi siang dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga memberitakan kepada mereka bahwa akan ada gajaran yang akan diterima oleh manusia atas segala amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.
Nabi Nuh yang dikurniakan Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tanaganya berdakwah kepda kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka terbyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dpt menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan tingi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan mengagalkan usaha dakwah Nabi nuh.
Berkata mereka kepada Nabi Nuh:"Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan tidak berbeda drp kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dpt diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang-orang yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudak kami menerima ajakanmu dan dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soaL-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui drpmu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalh pendusta belaka."
Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:"Adakah engkau mengira bahwa aku dpt memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendpt amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan gajaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa menurunkan seksa danazab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.".
Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata:"Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani, buruh dan hamaba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena kami tidak dpt bergaul dengan mereka duduk berdampingan dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dpt menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan papa."
Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata:"Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara peguasa dan rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama trehadap agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dpt ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan drpku orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dpt mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahawa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sihat. Sesungguhnay kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat.
Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka:
"Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami. datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."
Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya
Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah, mengajak mereka meninmggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mangangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingak yang sesuai dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan congkak yang melekat pada para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong diantara sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan an menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia mengharapkan akan dtg masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan dtg mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya.
Harapan Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal mana Nabi Nuh berupa berfirman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya tidak akan seorang drp kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka jgnlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuatkan."
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru:"Ya Allah! Jgnlah Engkau biarkan seorang pun drp orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt.mereka."
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam.
Nabi Nuh Membuat Kapal
Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bhn yang diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.
Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dpt bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olk dengan mengatakan:"Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal.Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang ankan menarik kapalmu ke laut?"Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab:"Baiklah tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekrg mengejek dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bg kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu."
Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah:"Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda drp-Ku maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.
Dengan iringan"Bismillah majraha wa mursaha"belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.
Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kanaan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.
Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah." Kanaan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang:"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."
Nuh menjawab:"Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kanaan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:"Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."Kepadanya Allah berfirman:"Wahai Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir drp kaummu.Coretlah namanya dari daftar keluargamu.
Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dpt engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya danterjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh."
Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sedar bahawa ia tersesat pd saat ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."
Kisah Nabi Nuh Dalam Al-Quran
Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh dari ayat 1 sehinga 28, juga dalam surah "Hud" ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa di atas mereka.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Nuh A.S.
Bahawasanya hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan kepercayaan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan drp hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kanaan yang walaupun ia adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan menentangnya.
Maka dalam pengertian inilah dapat difahami firman Allah dalam Al-Quran yang bermaksud:"Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara." Demikian pula hadis Rasulullah s.a.w.yang bermaksud:"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri."Juga peribahasa yang berbunyi:"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu." (ar/kisah) www.suaramedia.com
6.Fir'aun
Kisah sekitar kekejaman dan kedigdayaan Fir’aun betul-betul
sudah sangat membumi. Sehingga, setiap orang yang mendengarkan nama itu saja,
otomatis memorinya langsung membayangkan, kekejaman demi kekejaman yang telah
ia lakukan terhadap rakyatnya, dimana seharusnya ia lindungi. Semua itu ia
lakukan, demi mempertahankan kekuasaan tanpa batas, sekaligus menjadi sembahan
abadi bagi rakyatnya.
Ilustrasi: Proses pembelahan laut merah oleh Musa a.s.
Fir’aun atau Pharaoh,
adalah julukan bagi raja-raja Mesir kuno. Yang memerintah sesuai garis
keturunan yang mereka miliki. Dari sekian banyaknya fir’aun Mesir yang telah
berkuasa, paling menonjol adalah fir’aun Ramses II, yang berkuasa pada abad ke
14 SM. Pada masa pemerintahan fir’aun Ramses II inilah, kejayaan keluarga
dinasti fir’aun dicapai. Ramses II, adalah fir’aun yang paling lama memerintah
dalam sejarah Mesir kuno, yaitu +/- 60an tahun. Ia juga dikenal sebagai fir’aun
penindas dan sangat kejam terhadap kaum minoritas bani Israil.
Bersamaan dengan masa
kejayaan fir’aun Ramses II ini, Allah SWT telah mengutus Musa a.s. untuk
menyelamatkan kaum bani Israil, dari rongrongan serta kekejaman di luar batas
kemanusiaan, terhadap bani Israil sebagai kaum minoritas saat itu. Setelah
tercapainya deal antara Musa a.s. dengan Ramses II, untuk membawa kaum bani
Israil keluar dari negeri Mesir, menuju negeri Kanaan (Palestina sekarang),
maka seketika berkumpullah ribuan kaum bani Israil, yang sudah siap mengikuti
Musa a.s. untuk meuju negeri harapan.
Peta penyebrangan Musa a.s. dengan pengikutnya kaum bani
Israil.
Selang beberapa hari
kemudian, setelah fir’aun mendapat masukan dari para penasehatnya. Ia berbalik
hati, bahkan ingin menumpas Musa a.s. bersama semua pengikutnya dari bani
Israil. Karena ia meyakini, bahwa suatu saat Musa a.s. akan kembali bersama
kaumnya ke negeri Mesir serta akan menghancurkan kekuasaannya. Tanpa pikir
panjang, fir’aun pun langsung mempersiapkan semua kekuatan militernya untuk mengejar
mereka. Dimana saat itu, Musa a.s. beserta pengikutnya sudah hampir mendekati
tepi pantai (wilayah Nuweiba, Sinai Mesir saat ini), dan akan menyeberangi
teluk Aqaba menuju negeri Midian di daratan Hijaz.
Roda kereta: Benda temuan Ron Wyatt di dasar laut merah,
lokasi penyebrangan Musa a.s.
Setelah Musa a.s. dan
pengikutnya mengetahui, bahwa bala tentara fir’aun sedang mengejar untuk
membinasakan mereka, maka kucar-kacirlah mereka para kaum bani Israil. Serta
meminta Musa a.s. untuk mencarikan jalan keluar untuk bisa selamat dari
pengejaran fir’aun tersebut. Disaat itulah Muasa a.s. menerima wahyu dari Allah
SWT, untuk memukulkan tongkatnya ke air laut merah itu. Seketika, laut pun
terbelah dua, seakan memberikan jalan untuk mereka. Tanpa pikir panjang, Musa
a.s. dan pengikutnya langsung menyeberangi laut tersebut, hingga sampai dengan
selamat ke tepi pantai bagian timur daratan Hijaz. Seketika, bani Israil
melihat dengan cemas, bahwa bala tentara fir’aun juga sedang melakukan
penyeberangan melewati jalan mereka tadi. Namun, berselang beberapa saat
kemudian, air laut pun kembali menyatu, serta membinasakan semua bala tentara
fir’aun, termasuk fir’aun itu sendiri.
Gambaran kereta perang yang sama, di Museum El Tahrir Mesir
Selang beberapa waktu
kemudian, bala tentara fir’aun bantuan mendapatkan jasad fir’aun beserta
tentaranya mengapung di sepanjang pantai laut merah itu. Lalu, jasad tersebut
dibawa pulang ke kota
Qantir sebagai pusat kerajaan pada waktu itu. Sebagai tradisi fir’aun pada
waktu itu, semua raja-raja fir’aun akan diabadikan dengan cara membalsem
jasadnya, sehingga bertahan hingga beberapa abad kemudian. Setelah dibalsem,
baru kemudian disemayamkan bersama barang-barang kesayangannya dalam sebuah
peti mewah besar, lalu ditanam di wilayah Lembah para Raja (Valley of the
Kings) Luxor .
Misteri mummi fir’aun
sang pengejar Musa itupun terkuak. Setelah beberapa ahli mengsinkronisasikan,
masa berkuasanya fir’aun Ramses II, dengan periode pengutusan Musa a.s. kepada
kaum bani Israil, yaitu pada abad 14 SM. Disamping itu, juga terdapat keanehan
dalam peti mati sang fir’aun. Yaitu, kereta perang yang bentuknya tidak
sempurna, begitu juga beberapa aksesoris lainnya. Yang secara kebetulan, sangat
berbeda dengan barang bawaan peti mati fir’aun lainnya. Semuanya utuh dan
terawat rapi.
Mummi Firaun sang pengejar Musa, dipajang untuk umum di
Museum El Tahrir Mesir
Hal ini, juga
diperkuat dengan temuan terakhir arkeolog dunia Ron Wyatt. Disekitar daerah
penyeberangan, ia telah menemukan roda kereta perang, as roda kereta dan
beberapa rangka manusia. Sehingga semakin memperkuat analisa tersebut. Dimana,
semua benda-benda peninggalan itu, dapat dilihat langsung di Museum El Tahrir
Mesir.
Bagi seorang muslim,
peristiwa tersebut sudah sangat jelas dikisahkan oleh Allah SWT dalam Al
Qur’an. Yang inti tujuannya adalah, Allah mengapungkan serta mengabadikan jasad
fir’aun beserta bala tentaranya, untuk dijadikan contoh bagi orang-orang yang
ingkar serta sombong akan azab Allah yang nyata.
Kisah-kisah tersebut
dapat dibaca dalam Al Qur’an pada ayat dan surat berikut: surat “Thaha” ayat 77 hingga 79 ; surat
“Asy-Syua’ra” ayat 60 hingga 68 ; surat “Yunus” ayat 90 hingga 92.
By. Masykur A. Baddal
Sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2012/01/08/misteri-mummi-firaun-sang-pengejar-musa/



























0 komentar:
Posting Komentar